Oleh Zumrotul Ula, SST.,MKes

Dosen Kebidanan Stikes Surabaya

Setiap pasangan suami istri mendambakan mempunyai bayi yang sehat. Hal tersebut dapat dicapai melalui kehamilan yang normal dimana pada kehamilan normal hasil konsepsi dapat bertumbuh terus sehingga bayi yang dilahirkan memenuhi kriteria tersebut. Namun, kehamilan juga dapat mengalami gangguan sehingga menyebabkan kegagalan kehamilan. Kegagalan ini dapat berupa abortus, prematuritas, kematian janin dalam Rahim, atau kelaianan kongenital. Kegagalan kehamilan tersebut tergantung paada tahap dan jenis gangguan.

 

Apa itu Mola Hidatidosa atau Hamil Anggur

Mola Hidatidosa merupakan penyakit trofoblas gestational yang ditandai dengan abnormalitas vili koriolis yang mengalami degenerasi hidropik sehingga terlihat seperti buah anggur yang bergerombol. Pada mola hidatidosa terdapat poliferasi sel trofoblas yang berlebihan dan adanya edema stroma vilus. Secara makroskopis mola hidatidosa terlihatseperti gelembung – gelembung, transparan, dan berisi cairan jernih yang ukurannya bervariasi.

 

Gejala Mola Hidatidosa

Pada mola hidatidosa gejala awal yang muncul sama dengan kehamilan normal. Namun setelah beberapa waktu, gejala-gejala berikut bisa muncul:

  • Perdarahan pervaginam, baik sedikit maupun banyak yang berwarna merah kecoklatan
  • Hiperemesis gravidarum.
  • Keluarnya jaringan mola seperti buah anggur atau mata ikan, namun tidak selalu.
  • Nyeri pada tulang panggul.
  • Preeklamsia.
  • Anemia.
  • Hipertiroidisme.

Karena kemiripan gejalanya dengan kehamilan biasa, mola hidatidosa cenderung tidak disadari oleh penderita.

 

 

Penyebab dan Jenis Mola Hidatidosa

Penyebab mola hidatidosa adalah ketidakseimbangan kromosom selama kehamilan. Kondisi ini dapat terjadi jika sel telur yang dibuahi tidak memiliki infromasi genetika atau 1 sel telur normal dibuahi oleh dua sperma secara bersamaan. Penyebab inilah yang akan mengelompokkan hamil anggur dalam 2 kategori, yaitu:

  1. Mola Hidatidosa lengkap

Terjadi ketika sel telur yang tidak mengandung informasi genetika dibuahi oleh sperma dan tidak berkembang menjadi fetus, melainkan sekumpulan jaringan abnormal yang disebut mola, yang lama-kelamaan dapat memenuhi rahim.

  1. Mola Hidatidosa parsial

Muncul jika 1 sel telur normal dibuahi oleh 2 sperma. Jaringan plasenta akan berkembang abnormal menjadi mola,  sementara jaringan fetus yang berhasil berkembang akan mengalami kecacatan atau kelainan yang serius.

 

Faktor Risiko Mola Hidatidosa

Terdapat beberapa faktor yang diduga bisa meningkatkan risiko seorang wanita mengalami hamil anggur, di antaranya:

  1. Usia Ibu

Wanita yang beresiko tinggi untuk mengalami mola hidatidosa adalah wanita dengan usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun. Wanita dengan usia 35 tahun sampai 40 tahun risikonya meningkat 2 kali lipat. Sedangkan pada wanita usia 40 tahun ke atas risikonya meningkat 7 kali lipat dibandindingkan wanita yang hamil pada usia lebih muda. Hal ini dikarenakan kualitas sel telur sudah mengalami penurunan.

  1. Riwayat Obstetri

Riwayat obstetri meliputi riwayat keguguran lebih dari 2 kali, riwayat mola hidatidosa sebelumnya meningkatkan risiko 10 kali lipat lebih besar, dan paritas ibu. Semakin tinggi paritasnya maka kehamilan semakin berisiko yaitu terjadi trauma kehamilan atau adanya penyimpangan transmisi genetik.

  1. etnis

Kejadian hamil anggur paling umum ditemukan di negara-negara Asia seperti Taiwan, Filipina, dan Jepang. Namun lama kelamaan, distribusi kasus mola hidatidosa ini semakin merata dan dapat dijumpai pada segala etnis.

 

Diagnosis Mola Hidatidosa

Diperluan melakukan pemeriksaan darah dan USG untuk memastikan diagnosis mola hidatidosa.

Pada pemeriksaan darah, akan dilakukan pemeriksaan kadar hormon kehamilan yang disebut dengan human chorionic gonadotropin (HCG). Selain itu, pemeriksaan kadar hormon tiroid serta kadar hemoglobin dalam darah juga diperlukan untuk melihat ada tidaknya kondisi kelainan medis yang lain. Pemeriksaan USG pada trimester pertama kehamilan, tepatnya minggu ke-8 atau 9. Hasil USG dari mola hidatidosa lengkap kemungkinan akan menunjukkan :

  1. Kista plasenta tebal yang mengisi rongga rahim.
  2. Tidak adanya embrio/janin.
  3. Tidak adanya cairan amnion/ketuban.
  4. Kista ovarium.

Sedangkan hasil USG pada mola hidatidosa parsial, kemungkinan akan menunjukkan :

  1. Pertumbuhan janin yang sangat terbatas.
  2. Jumlah cairan amnion sangat sedikit.
  3. Kista plasenta tebal yang mengisi rongga rahim.

 

Penanganan Mola Hidatidosa

Operasi pengangkatan jaringan abnormal pada mola hidatidosa merupakan metode penanganan utama. Langkah ini dapat dilakukan melalui beberapa prosedur yang meliputi:

  1. kuret
  2. Histerektomi.

Pemeriksaan kadar hormone HCG dilakukan setiap 2 minggu selama  6 bulan hingga 1 tahun setelah dilakukan tindakan operasi, dengan tujuan untuk memastikan tidak ada sel – sel abnormal yang kembali tumbuh dan memantau gejala – gejala dari penyakit trofoblastik.

 

 

Sumber :

Fitriani R. 2009. Mola hidatidosa. Jurnal Kesehatan Fakultas Kedoteran UIN Alauddin Makassar. II(4);3-6.

Damongilala S, Tendean HMM, Loho M. 2015. Profil Mola Hidatidosa di BLU RSUP Prof. Dr. R.D Kandou Manado, Jurnal e-Cinic (eCI) Fakultas Kedokteran Sam Ratulangi Mando. (3)3-6.

Lurain JR. 2010. Gestational trophoblastic disease I: Epidemiology, pathology, clinical presentation and diagnosis of gestational trophoblastic disease, and management of hydatidiform mole. Amerika Journal Obstetri Gynecoly. Elsevier Inc : 203(6):531-9. Available from : http://dx.doi.org/10.1016/j.ajog.2010.06.073.

Begum, et al. 2016. Complete Molar Pregnancy in Postmenopausal Women. Journal of Mid-Life Health, 7(2), pp. 91-93

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *