Oleh : Setiya Hartiningtiyaswati, SST, M.Keb

Sistem reproduksi wanita akan mengalami perubahan fisiologis apabila terjadi fertilisasi (konsepsi). Zigot terus berkembang hingga menjadi blastula yang akan berimplantasi pada endometrium. Blastula memiliki dari 2 bagian yaitu inner cell mas (embrioblast) dan outer cell mass (trophoblast). Trophoblast memproduksi hormon steroid serta enzim dan akan berkembang menjadi plasenta yang memegang peranan penting dalam sistem endokrin. Perubahan jenis dan jumlah hormon steroid tersebut menciptakan suatu lingkungan hormonal yang membantu mempertahankan kehamilan. Perubahan hormonal tersebut bersifat khas yang hanya terjadi pada kehamilan, khususnya pada awal kehamilan digunakan sebagai tanda atau ciri untuk mendiagnosis kehamilan.1-4 Beberapa hormon yang digunakan sebagai diagnosis kehamilan yaitu :

  1. Human Chorionic Gonadotropin (hCG)

hCG merupakan hormon glikoprotein yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi dengan berat molekul 36-40 kDa. hCG tersusun dari 2 sub-unit berbeda yang berikatan secara non-kovalen yaitu sub-unit α (α-hCG) yang terdiri dari 92 asam amino dengan berat molekul 14,5 kDa dan sub-unit β (β-hCG) yang terdiri dari 145 asam amino dengan berat molekul 22,2 kDa. Hormon ini, khususnya sub-unit α memiliki struktur yang identik dengan hormon glikoprotein lainnya yaitu luteinizing hormone (LH), Follicle Stimulating Hormone (FSH), dan Thyroid-stimulating Hormone (TSH). Sedangkan sub-unit β memiliki sekuen asam amino yang berbeda. βC-hCG (beta sub-unit core hCG) merupakan hasil degradasi dari β-hCG oleh enzim makrofag pada ginjal, sehingga hormon ini dapat terdeteksi pada urine dan tidak dapat terdeteksi pada serum.3, 5 Bentuk sintesis hCG yaitu reguler-hCG dan hyperglycosylated hCG (H-hCG). H-hCG mengandung lebih banyak residu gula dibandingkan dengan reguler-hCG. Bentuk-bentuk hormon hCG yang bermacam-macam ini meiliki bioaktivitas dan imunoaktivitas yang berbeda.1, 2, 6-9

Reguler-hCG diproduksi oleh trophoblast (plasenta) tepatnya pada syncytiotrophoblast. Sedangkan bentuk H-hCG diproduksi oleh sel invasif trofoblas pada saat implantasi. Diluar periode kehamilan hCG juga disintesis dan disekresi oleh gonadotropin, disebut pituitary hCG yang memiliki sedikit perbedaan dengan hCG yang diproduksi oleh trophoblast. Hormon ini juga akan terdeteksi pada beberapa nontrophoblastic tumor.2, 8-10

Hormon ini tidak terdeteksi pada wanita yang tidak hamil dan laki-laki. Pada tahun 1920 Hirose, pertama kali menemukan keberadaan hCG dalam kehamilan, yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara hormon placenta dan produksi progesteron oleh korpus luteum. Pada tahun 1930, ditemukan tes hCG pertama kali yang terkenal dengan sebutan The Aschheim-Zondek test. Penemuan ini terus berkembang hingga tahun 1973, ditemukan tes radioimmunoassay yang mengkhusukan pada deteksi sub unit β-hCG. Kemudian pada tahun 1975, barulah ditemukan dasar monoclonal antibodies untuk deteksi hCG yang merupakan cikal bakal berkembangnya tes-tes hCG modern. Prinsip deteksi hCG baik pada urine ataupun serum yaitu melalui antibodi yang sengaja diciptakan dengan spesifitas yang tinggu terhadap hCG. Salah satu immunoassay yang digunakan untuk mengukur hCG yaitu dengan teknik lapis (sandwich type immonoassay). Pada tipe tes ini, dibuat 2 macam antibodi. Antibodi jenis monoklonal yang berguna untuk mengikat β-hCG. Kemudian antibodi yang kedua berguna untuk melapisi hCG yang telah terikat. Pada beberapa metode, antibodi yang kedua ini diikatkan pada suatu enzim yang akan menghasilkan suatu warna sebagai detektor keberadaan hCG. 1, 11, 12

Selain sebagai detektor adanya kehamilan, hCG bermanfaat dalam mendeteksi keadaan abonormal kehamilan seperti kehamilan ektopik, abortus, kehamilan ganda, memprediksi preeklamsia, down sindrom, serta kelainan trofoblas janin dapat terdeteksi dengan berpatokan pada kuantitas titer hCG dalam serum. Core β-hCG juga digunakan sebagai detektor adanya down sindrom13 dan kanker pada wanita tidak hamil. Selain itu, hCG juga memiliki beberapa peranan dalam kehamilan, yaitu :11, 12

  1. Mempertahankan fungsi korpus luteum dalam memproduksi progesteron
  2. Meningkatkan sekresi relaksin oleh korpus luteum
  3. Memicu vasodilatasi pembuluh darah uterus dan relaksasi otot polos miometrium
  4. Merangsang sekresi testosteron janin, sehingga terjadi diferensial seksual laki-laki
  5. Merangsang kelenjar tyroid ibu

Terdapat variasi dalam penentuan kadar hCG pada kehamilan normal. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya variasi isoform dengan rekativitas yang berbeda pula dalam mendeteksi titer hCG. Trofoblas mulai memproduksi hCG pada saat terjadi implantasi blastokista (H-hCG). Mulai 3 minggu pasca hari pertama haid terakhir, konsentrasi hCG akan terus meningkat tiap 2-4 hari, hingga mencapai kadar puncak pada minggu ke-7 sampai minggu ke-10. Konsentrasi hormon ini akan mulai menurun setelah minggu ke-10 dan mencapai kadar terendah pada minggu ke-16 yang berlanjut hingga akhir kehamilan.12

Terdapat 2 jenis pemeriksaan kehamilan dengan hCG, yaitu tes kehamilan di rumah (home pregnancy test) dan tes hCG di laboratorium.

  1. tes kehamilan di rumah (home pregnancy test)

 

Gambar 1 : alat tes kehamilan (non digital)

home pregnancy test merupakan tes kehamilan yang dipilih wanita untuk mengetahui kehamilan. Beberapa alasan wanita menggunakan tes kehamilan ini yaitu kecepatannya dalam mendeteksi kehamilan, serta dengan menggunakan alat ini, para wanita akan mendapatkan keuntungan sebagai orang pertama yang mengetahui kehamilannya.14 Prinsip tes kahamilan ini yaitu dengan mendeteksi keberadaan hCG pada urine, khusunya β-hCG. Salah satu immunoassay yang digunakan yaitu dengan metode ELIZA (Enzym Linked immunosorbent assay. Metode ini menggunakan teknik lapis (sandwich type immonoassay). Pada tipe tes ini, dibuat 2 macam antibodi. Antibodi jenis monoklonal yang berguna untuk mengikat β-hCG. Kemudian antibodi yang kedua berguna untuk melapisi hCG yang tekah terikat. Pada beberapa metode, antibodi yang kedua ini diikatkan pada suatu enzim yang akan menghasilkan suatu warna sebagai detektor keberadaan hCG.

Sejak saat itu, terdapat perkembangan berbagai jenis merek tes kehamilan mulai yang berbentuk manual ataupun digital.5 Mayoritas merek tersebut menuliskan pada kemasan >99% “akurat pada waktu secepatnya setelah terlambat menstruasi”. Akan tetapi berdasarkan The USA hCG Reference Service yang terdapat pada penelitian Butler, dkk (2001) didapakan laporan hasil negatif ataupun positif palsu pada pemeriksaan urin dengan tes kehamilan kit saat dikomparasi dengan tes kehamilan serum.6 hal yang sama juga ditemukan oleh Cole, dkk (2004) yang menyatakan bahwa diperlukan sensitivitas konsentrasi hCG sebesar 12,5 mIU/ml untuk mendapatkan akurasi 95%. Dari 18 merek tes kehamilan yang beredar di Amerika serikat, hanya 1 merek yang dapat mencapai sensitivitas tersebut. Mayoritas merek memberikan hasil yang jelas positif jika konsentrasi hCG tinggi yaitu sebesar 100 mIU/ml yang mengindikasikan dapat mendeteksi kehamilan dengan benar sebesar setidaknya  sebesar 16%.5, 6, 15 Terkait dengan berkembangnya alat tes kehamilan yang berbentuk digital, Tomlison dkk (2008) dalam penelitiannya yang membandingkan 6 merek alat dengan The Clearblue Digital Pregnancy Test sebagai gold standar, ditemukan bahwa The Clearblue Digital Pregnancy memiliki akurasi yang lebih baik dibandingkan dengan kelima merek alat tes kehamilan manual lainnya.16 Sehingga akurasi yang tertulis pada label alat tes kehamilan bergantung pada spesifitas alat serta waktu pemeriksaan yang terkait dengan konsentrasi hCG.

 

Gambar 2 : alat tes kehamilan (digital)

(http://pregnant2day.co.za/images/stories/img/Pregnancy_test_result.jpg)

Beberapa data menunjukkan bahwa beberapa wanita mendapatkan hasil negatif ataupun positif palsu saat melakukan tes kehamilan. Venning (1964) dalam hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa apabila pengambilan sampel urine dilakukan kurang dari 40 hari setelah hari terakhir menstruasi, hasil tes kehamilan akan menghasilkan sensitivitas yang rendah dan meningkatkan kemungkinan hasil false-negative. Hasil tersebut harus diulang pada hari ke 5-7 untuk mendapatkan hasil yang sebenarnya. Begitu pula bila sampel urine diambil kurang dari hari ke-17 setelah ovulasi, hasil immnunoassay dan bioassay akan menunjukkan hasil negatif pada saat itu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sensitivitas alat tes kehamilan dipengaruhi pula oleh waktu pemeriksaan yang berkaitan dengan kadar beta hCG. 17

  1. Tes laboratorium

Prinsip tes ini sama halnya dengan home pregnancy test yaitu dengan mendeteksi hCG. Yang membedakan adalah pada tes laboratorium dilakukan deteksi hCG pada serum (darah). Tes ini memiliki sensitivitas yang lebih baik dari pada home pregnancy test sehingga digunakan gold standar test apabila hasil home pregnancy test meragukan. Beberapa jenis tes laboratorium untuk mendeteksi hCG sebagai diagnosis kehamilan adalah radioimmunoassay, immunoradiometric assay, fluoroimmunoassay.3

  1. Progesteron

Progesteron adalah hormon steroid yang diproduksi oleh sel granulosa di ovarium.18 Pada awal kehamilan, sebagian besar progesteron diproduksi oleh korpus luteum atas rangsangan dari hCG selama kurang lebih 10 minggu gestasi. Pada 5-6 minggu pertama, hCG merangsang korpus luteum mensekresi sekitar 25 mg progesteron.10 Hormon ini bermanfaat dalam mempersiapkan endometrium untuk implantasi blastokista.18 Keberadaan progesteron tersebut dijadikan dasar untuk mendiagnosis kehamilan, khususnya untuk membedakan viabel atau non-viabel dari kehamilan. Hal ini berkaitan pula dengan komplikasi di awal kehamilan yaitu abortus, blighted ovum,19 serta kehamilan ektopik. Menurut Elson, dkk (2003), Rendahnya konsentrasi progesteron mengindikasikan terjadinya abortus atau kehamilan ektopik (non-viabel), sedangkan konsentrasi progesteron yang tinggi mengindikasikan kehamilan yang viabel (kehamilan normal).19, 20

Sensitifitas dan spesitifitas dari tes progesteron bergantung dari kadar dari progesteron itu sendiri. Dari beberapa hasil studi didapatkan pada kehamilan awal, mayoritas wanita hamil normal memiliki kadar progesteron terendah rata-rata 28 nmol/L.19 apabila digunakan ambang batas progesteron <10 nmol/L21 untuk mendeteksi kehamilan non-viabel, sensitifitasnya adalah 66,5% dan spesitifitasnya 96,3%. Sensitivitas ini akan semakin meningkat bila ambang progesteron dinaikkan, akan tetapi spesifitasnya akan semakin menurun.20

 

 

REFERENSI

 

  1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spong CY. Obstetri William. 23 ed. Jakarta: EGC; 2013.
  2. Fraser DM, Cooper MA. Myles Textbook for Midwives. 14 ed: Churchill Livingstone Elsevier; 2009.
  3. Shields AD, Chelmow D, Meyer BA, Talavera F, Gaupp FB. Pregnancy Diagnosis. 2012; Available from: http://emedicine.medscape.com/article/262591-overview#showall.
  4. Fraser DM, Cooper MA. Myles Buku Ajar Bidan. 14 ed. Jakarta: EGC; 2009.
  5. Cole LA, Khanlian SA, Sutton JM, Davies S, Rayburn WF. Accuracy of home pregnancy tests at the time of missed menses. Am J Obstet Gynecol. 2004 Jan;190(1):100-5.
  6. Butler SA, Khanlian SA, Cole LA. Detection of early pregnancy forms of human chorionic gonadotropin by home pregnancy test devices. Clin Chem. 2001 Dec;47(12):2131-6.
  7. Davies S, Byrn F, Laurence. Human Chorionic Gonadotropin Testing for early Pregnancy Viability and Complication. Clin Lab Med. 2003;23:257-64.
  8. Blood Human Chorionic Gonadotropin (hCG) Assays: What Laboratorians Should Know about False-Positive Results. 2012; Available from: http://www.fda.gov/MedicalDevices/Safety/AlertsandNotices/TipsandArticlesonDeviceSafety/ucm109390.htm.
  9. Staros EB. Human Chorionic Gonadotropin (hCG). 2012; Available from: http://emedicine.medscape.com/article/2089158-overview#showall.
  10. Gharabaghi P, Abdollahifard S, Gharabaghi M, Nouri M. Comparing the Levels of β-hCG, Progesterone and Estradiol Between Ectopic Pregnancy and Normal Intrauterine Pregnancy. Irania Journal of Reproductive Medicine. 2007;5(4):187-90.
  11. Cole LA. New discoveries on the biology and detection of human chorionic gonadotropin. Reprod Biol Endocrinol. 2009;7:8.
  12. Cole LA. hCG, the wonder of today’s science. Reprod Biol Endocrinol. 2012;10:24.
  13. Cole LA. Immunoassay of human chorionic gonadotropin, its free subunits, and metabolites. Clin Chem. 1997 Dec;43(12):2233-43.
  14. Bastian LA, Nanda K, Hasselblad V, Simel DL. Diagnostic efficiency of home pregnancy test kits. A meta-analysis. Arch Fam Med. 1998 Sep-Oct;7(5):465-9.
  15. Cole LA, Sutton-Riley JM, Khanlian SA, Borkovskaya M, Rayburn BB, Rayburn WF. Sensitivity of over-the-counter pregnancy tests: comparison of utility and marketing messages. J Am Pharm Assoc (2003). 2005 Sep-Oct;45(5):608-15.
  16. Tomlinson C, Marshall J, Ellis JE. Comparison of accuracy and certainty of results of six home pregnancy tests available over-the-counter. Curr Med Res Opin. 2008 Jun;24(6):1645-9.
  17. Venning EH. Pregnancy Test. Obstet Gynecol. 1964;26:110-4.
  18. Abdelazim IA, Elezz AA, Elsherbiny M. Relation between single serum progesterone assay and viability of the first trimester pregnancy. Springerplus. 2012 Dec;1(1):80.
  19. Elson J, Salim R, Tailor A, Banerjee S, Zosmer N, Jurkovic D. Prediction of early pregnancy viability in the absence of an ultrasonically detectable embryo. Ultrasound Obstet Gynecol. 2003 Jan;21(1):57-61.
  20. Verhaegen J, Gallos ID, van Mello NM, Abdel-Aziz M, Takwoingi Y, Harb H, et al. Accuracy of single progesterone test to predict early pregnancy outcome in women with pain or bleeding: meta-analysis of cohort studies. BMJ. 2012;345:e6077.
  21. Phipps MG, Hogan JW, Peipert JF, Lambert-Messerlian GM, Canick JA, Seifer DB. Progesterone, inhibin, and hCG multiple marker strategy to differentiate viable from nonviable pregnancies. Obstet Gynecol. 2000 Feb;95(2):227-31.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *