Wanita post partum atau pasca persalinan selalu mengeluarkan 2 jenis darah yaitu darah kelahiran (wiladah), dan darah pasca persalinan (nifas), mau tau apa bedanya, yuk di baca yaaa….

  1. DARAH KELAHIRAN (wiladah)

Darah kelahiran (wiladah) adalah darah yang keluar bersamaan dengan keluarnya bayi, sedangkan menurut imam Syafi’I darah wiladah adalah darah yang keluar pasca keluarnya bayi, setelah melahirkan, wanita yang melahirkan di wajibkan untuk mandi wiladah. Namun sebagian ulama ada yang berpendapat hanya Sunnah, oleh karena itu diperbolehkan sampai selesainya waktu nifas, dengan demikian mandi wiladah sekaligus mandi besar nifas

  1. DARAH NIFAS

Nifas secara Bahasa dapat diartikan dengan darah (an-nafs), lepas dari kesulitan (an-nafas), dan keluar dari lubang (at-tanfis).

Beberapa pendapat ulama tentang darah nifas yaitu :

  1. Menurut Imam Abu Hanifah waktu nifas berlangsung antara beberapa meniit dengan mengeluarkan setetes darah sampai maksimal 25 hari
  2. Menurut Imam Malik, batas maksimal waktu nifas adalah 60 hari, terhitung sejak dari keluarnya janin atau gumpalan daging.
  3. Imam Syafi’I dan para ulama’ Syafi’iyah berpendapat bahwa batas minmal waktu nifas adalah sekejap (lahdhah) dan batas maksimal adalah 60 hari. Akan tetapi kebiasaan masa nifas para wanita adalah 40 hari.

Kosekuensi dari keluarnya darah nifas sama halnya dengan darah haid, dimana seorang perempuan haram melaksanakan sholat, puasa, memasuki masjid, membawa mushaf (al-quran), membaca al-quran, dan tidak boleh melakukan hubungan suami istri.

HAL-HAL YANG PERLU DI PERHATIKAN TERKAIT DARAH NIFAS :

  1. Darah nifas dihitung sejak wanita melahirkan anaknya, batas minimal adalah satu tetes saja, dan dan maksimalnya adalah 60 hari, akan tetapi wanita pada umumnya mengalai masa nifas nya selama 40 hari
  2. Wanita yang mengalami flek-flek saja atau perdaraha putus-putus pada masa nifasnya maka semua darah berikut masa berhentinya dikategorikan sebagai masa nifas, asalkan masa putus nya dari flek atau keluar darahnya lagi tidak sampai 15 hari, bila masa berhentinya lebih dari 15 hari maka darah yang keluar selanjutnya di sebut darah haid bukan darah nifas
  3. Perdarahan yang menyertai proses persalinan sebelum bayi keluar, maka darah itu dinamakan darah istihadlo (darah penyakit), bukan darah nifas ataupun haid, maka hukumnya masih boleh melaksanakan sholat dan puasa ramdahan jika mampu, akan tetapi jika perdarahan tersebut bersambung atau berada dalam siklus menstruasi seperti pada bulan-bulan sebelumnya maka darah yang keluar itu dihukumi dengan darah haid, contoh missal seorang wanita hamil dan mengalami perdarahan 3 hari sebelum melahirkan, sedangkan ia masih berada dalam masa haid maka semua darah nya termasuk kategori hukumnya darah haid, jadi tidak boleh melakukan kegiatan-kegiatan yang diharamkan ketika wanita datang haid.

REFRENSI :

  • Aziz Ali. M, Haq. Faisal, Navis. A, 2014, Fiqih Medis, Surabaya, Rumah Sakit Islam Jemursari
  • Ibnu Rusyd Al-Qurthuby Al- Andalusy, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, juz 1, hal. 36,37,38.
  • Abu Bakar As-Sayyid Muhammad Syatha Ad Dimyathi, I’anatuth Thalibin, Juz 1, hal. 73
  • Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam, hal 56

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + = 5