Oleh : Suci Ferdiana, M.Pd

Biology Lecturer at Nutrition Department STIKes Surabaya

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, malaria menyerang ratusan juta orang di seluruh dunia, menewaskan lebih dari 400.000 per tahun. Penggunaan pestisida selama beberapa dekade telah gagal mengendalikan nyamuk yang membawa parasit malaria dan telah menyebabkan resistensi insektisida di antara banyak jenis nyamuk. Sebagai tanggapan, para ilmuwan mulai memodifikasi nyamuk secara genetis dan organisme lain yang dapat membantu memberantas nyamuk. Sampai sekarang, tidak ada pendekatan transgenik yang berhasil melampaui pengujian laboratorium.

Penelitian Gabungan dari University of Maryland dan Burkina Faso mengembangkan jamur transgenic untuk mereduksi populasi nyamuk anopheles betina. Jamur itu adalah Metarhizum pingshaense yang telah di masuki gen pengkode toksin untuk serangga yang dinamakan hybrid. Jamur ini bersifat pathogen pda nyamuk anopheles saja. Toksin hybrid merupakan turunan toksin yang didapatkan dari species laba-laba Australian Blue Mountains funnel-web.

Dalam satu set percobaan, para peneliti menggantung selembar kapas hitam yang dilapisi dengan minyak wijen di dinding gubuk di masing-masing dari tiga kamar.Satu lembar menerima minyak dicampur dengan jamur transgenik Metarhizium pingshaense, satu menerima minyak dengan Metarhizium tipe liar dan satu menerima hanya minyak wijen.Kemudian, mereka melepaskan 1.000 nyamuk jantan dewasa dan 500 nyamuk betina dewasa ke dalam masing-masing kamar MosquitoSphere untuk membangun populasi berkembang biak.Para peneliti kemudian menghitung nyamuk di setiap kamar setiap hari selama 45 hari.

Di dalam kamar berisi lembaran yang dirawat dengan jamur transgenik, populasi nyamuk menurun drastis selama 45 hari menjadi hanya 13 nyamuk dewasa.Itu tidak cukup bagi pejantan untuk membuat kawanan, yang dibutuhkan nyamuk untuk berkembang biak.Sebagai perbandingan, para peneliti menghitung 455 nyamuk di kamar yang diobati dengan jamur tipe liar dan 1.396 nyamuk di kamar yang dirawat dengan minyak wijen biasa setelah 45 hari.Mereka menjalankan eksperimen ini beberapa kali dengan hasil dramatis yang sama.

Dalam percobaan serupa di laboratorium, para ilmuwan juga menemukan bahwa betina yang terinfeksi jamur transgenik hanya bertelur 26, hanya tiga di antaranya berkembang menjadi dewasa, sedangkan betina yang tidak terinfeksi meletakkan 139 telur yang menghasilkan 74 orang dewasa.

 

Referensi:

Brian Lovett, Etienne Bilgo, Souro Abel Millogo, Abel Kader Ouattarra, Issiaka Sare, Edounou Jacques Gnambani, Roch K. Dabire, Abdoulaye Diabate, Raymond J. St. Leger. Transgenic Metarhizium rapidly kills mosquitoes in a malaria-endemic region of Burkina Faso. Science, 2019; 364 (6443): 894-897

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

51 − = 42