Oleh : Eko Budi Santoso, S.Kep., Ns., M.Kes

 

Di Indonesia kasus kekerasan seksual setiap tahun mengalami peningkatan, korbannya bukan hanya dari kalangan dewasa saja sekarang sudah merambah ke remaja, anakanak bahkan balita. Fenomena kekerasan seksual terhadap anak semakin sering terjadi dan menjadi global hampir di berbagai negara. Kasus kekerasan seksual terhadap anak terus meningkat dari waktu ke waktu. Peningkatan tersebut tidak hanya dari segi kuantitas atau jumlah kasus yang terjadi, bahkan juga dari kualitas. Dan yang lebih tragis lagi pelakunya adalah kebanyakan dari lingkungan keluarga atau lingkungan sekitar anak itu berada, antara lain di dalam rumahnya sendiri, sekolah, lembaga pendidikan, dan lingkungan sosial anak.

Terungkapnya kasus kekerasan seksual di Surabaya sehingga Dunia pendidikan kembali tercoreng, seorang pelajar SMP malah menjual keperawanan temannya sendiri ke pria hidung belang dengan motif korban bakal mendapatkan uang sebesar Rp 5.000.000 dari hasil jual dirinya.
Peristiwa miris ini bukan yang pertama kali terjadi. Para pelajar sudah beberapa kali terlibat kasus prostitusi, tak hanya jadi PSK, mereka juga menjalani profesi sebagai muncikari. Masyarakat seakan tertampar dengan berita tersebut mengingat kasus terjadi di lembaga Pendidikan. (Merdeka.com, 2016)

1 dari 10 perempuan usia 15-64 tahun mengalaminya (kekerasan ini) dalam 12 bulan terakhir.
Kejutannya, korban kekerasan kebanyakan memiliki latar belakang pendidikan minimal SMA, dengan persentase 39,4 persen. Lalu, 35,1 persen perempuan yang mengalami kekerasan didapati tidak bekerja. Berdasarkan sumber dari SPHPN didapatkan prevalensi kekerasan seksual oleh selain pasangan menurut tindakan yang dilakukan dengan tindakan dalam berkomentar hingga mengirimkan pesan bernada seksual sekitar 10% yang diterima selama seumur hidup dan 3,2% dalam setahun terakhir.

 

Remaja menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap kekerasan seksual karena remaja masih membutuhkan konsep diri sebagai acuan dalam menumbuhkan jati diri. Hal inilah yang membuat remaja dalam proses pencarian jati diri biasanya salah dalam memposisikan diri atau bahkan pergaulan yang salah menyebabkan remaja tersebut bisa terjerumur pada hal yang bersifat seksual hingga terjadi kekerasan pada remaja yang mana inilah awal dari terjadinya Human trafiking.  Tak sedikit pula pelakunya adalah orang yang memiliki dominasi atas korban, seperti teman sebaya dan lain-lain. Tidak ada satupun karakteristik khusus atau tipe kepribadian yang dapat diidentifikasi dari seorang pelaku kekerasan seksual terhadap remaja. Kemampuan pelaku menguasai korban, baik dengan tipu daya maupun ancaman dan kekerasan, menyebabkan kejahatan ini sulit dihindari. Dari seluruh kasus kekerasan seksual pada remaja baru terungkap setelah peristiwa itu terjadi, dan tak sedikit yang berdampak fatal.

Menurut Lyness (Maslihah, 2006) kekerasan seksual terhadap anak meliputi tindakan menyentuh atau mencium organ seksual anak, tindakan seksual atau pemerkosaan terhadap anak, memperlihatkan media/benda porno, menunjukkan alat kelamin pada anak dan sebagainya. Kekerasan seksual (sexual abuse) merupakan jenis penganiayaan yang biasanya dibagi dua dalam kategori berdasar identitas pelaku, yaitu:

  1. Familial Abuse

Termasuk familial abuse adalah incest, yaitu kekerasan seksual dimana antara korban dan pelaku masih dalam hubungan darah, menjadi bagian dalam keluarga inti. Dalam hal ini termasuk seseorang yang menjadi pengganti orang tua, misalnya ayah tiri, atau kekasih, pengasuh atau orang yang dipercaya merawat anak. Mayer (Tower, 2002) menyebutkan kategori incest dalam keluarga dan mengaitkan dengan kekerasan pada remaja, yaitu kategori pertama, penganiayaan (sexual molestation), hal ini meliputi interaksi noncoitus, petting, fondling, exhibitionism, dan voyeurism, semua hal yang berkaitan untuk menstimulasi pelaku secara seksual. Kategori kedua, perkosaan (sexual assault), berupa oral atau hubungan dengan alat kelamin, masturbasi, stimulasi oral pada penis (fellatio), dan stimulasi oral pada klitoris (cunnilingus). Kategori terakhir yang paling fatal disebut perkosaan secara paksa (forcible rape), meliputi kontak seksual. Rasa takut, kekerasan, dan ancaman menjadi sulit bagi korban.

  1. Extra Familial Abuse

Kekerasan seksual adalah kekerasan yang dilakukan oleh orang lain di luar keluarga korban. Pada pola pelecehan seksual di luar keluarga, pelaku biasanya pacar atau teman sebaya yang dikenal dan telah membangun relasi, kemudian dengan cara membujuk remaja tersebut dengan iming-iming uang atau barang yang akan memuluskan tindakan pelecehan seksual.

 

Kekerasan seksual yang dilakukan di bawah kekerasan dan diikuti ancaman, sehingga korban tak berdaya itu disebut molester. Kondisi itu menyebabkan korban terdominasi dan mengalami kesulitan untuk mengungkapnya. Namun, tak sedikit pula pelaku kekerasan seksual pada anak ini melakukan aksinya tanpa kekerasan, tetapi dengan menggunakan manipulasi psikologi. Anak ditipu, sehingga mengikuti keinginannya. Anak sebagai individu yang belum mencapai taraf kedewasaan, belum mampu menilai sesuatu sebagai tipu daya atau bukan.

Perkambangan dunia ini telah masuk pada abad kontemporer yang mana memiliki kebebasan dalam melakukan pendapat, perilaku hingga kegiatan yang menyimpang yang memberikan akses menjadi perilaku kekerasan seksual, yang memberikan dampak traumatis pada korban kejahatan seksual. Dunia remaja masuk dalam tahap tumbuh kembang secara psikososial selalu berkeinginan untuk mencoba sesuatu yang baru, mencari identitas diri dan uji nyali, hal ini bisa membawa remaja ke dunia prostitusi atau bahkan kekerasan seksual.

Kekerasan seksual bisa terjadi kepada siapa pun, selaras dengan teori yang diajukan oleh L Green yang mengutarakan bahwa pada fase Reinforcing yang merupakan bagian dari sikap teman sebaya yang kemungkinan besar bisa menyebabkan terjadinya ancaman kekerasan seksual terlebih dunia ini mengalami kemajuan teknologi. Dampak dari kemajuan teknologi membawa pola pikir memberikan input yang besar terjadinya sikap yang menyimpang terhadap terjadinya perilaku kekerasan seksual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 6 = 11