Oleh Basilius Y. Weu

Tim Manajemen Keperawatan

Remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak dan dewasa muda, selama masa tersebut remaja mengalami perubahan fisiologis, kognitif dan perubahan sosial (Murberq & Bru, 2014). Klasifikasi usia remaja bervariasi dari beberapa literature, menurut Word Health Organization remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10 hingga 19 tahun. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 25 tahun 2014, remaja adalah penduduk dalam rentan usia 10-18 tahun. Sementara itu, menurut Badan Pendudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), rentang usia remaja adalah 10-24 tahun dan belum menikah. Perbedaan definisi tersebut menunjukan bahwa tidak ada kesepakatan universal mengenai batasan kelompok usia remaja.

Masa ini (remaja) merupakan periode persiapan menuju masa dewasa yang akan melewati beberapa tahap perkembangan penting dalam hidup. Selain kematangan fisik dan seksual, remaja juga mengalami tahapan menuju kemandirian social dan ekonomi, membangun identitas, akuisisi kemampuan (skill) untuk kehidupan masa dewasa serta kemampuan berorganisasi (abstract reasoning) (WHO,2015).

Stress merukapan sebuah konsep yang tidak bisa dijelaskan menggunakan definisi statik, dengan demikian pentingnya dalam mengelola stress (Gaillard dan Seotars,2011). Stress adalah reaksi seseorang baik secara fisik maupun emosional (mental/psikis) apabila ada perubahan dari lingkungan yang mengharuskan seseorang menyesuaikan diri. Stress adalah bagian alami dan penting dari kehidupan, tetapi apabila berat dan berlangsung lama dapat merusak kesehatan jiwa (KEMENKES,2019)

Remaja bereaksi terhadap stress dengan cara yang berbeda-beda. Meskipun stress dapat membantu menjadi lebih waspada dan antisipasi ketika dibutuhkan, namun dapt menyebabkan gangguan emosional dan fisik. Stress saat pubertas banyak terjadi, apalagi dengan adanya perubahan hubungan dengan teman sebaya, tugas dan aktifitas sekolah yang banyak dan masalah keamanan di lingkungan sekitar mereka (KEMENKES,2019).

Apa saja efek dari stress pada remaja? Tidak semua orang tua mampu menjadi tempat untuk mencurahkan permasalahan anak dan keengganan anak untu bercerita terkait masalah yang sedang mereka alamai kepada orang tua, maka pentingnyan untuk menyadari efek stress sehingga mampu mengelola stress. Efek pada tubuh, merasa lelah, kesulitan tidur, sakit kepala, makan berlebihan, sakit dan nyeri d leher dan kepala, sakit perut. Efek pada perasaan, perasaan sedih, cemas, khawatir, menjadi mudah marah, mudah kehilangan kesabaran, sulit berkonsentrasi untuk pelajaran sekolah (KEMENKES,2019)

Cara mengatasi stress memiliki dampak pada kesehatan fisik dan emosional, menejemen stress yang buruk pada remaja bisa menyebabkan depresi, penyalah gunaan zat adiktif dan masalah kesehatan lainya. Delahaij et al.( 2011) mengatakan manajemen stress memfokuskan pada coping individu dalam menangani situasi tekanan stress dan meminimalkan reaksi emosional yang timbul. Coping merupakan hubungan antara kognitif dan proses perilaku untuk mengurangi dampak stress. Manajemen coping stres dibagi atas dua yakni emosional focus dan problem fokus koping.

Emosional fokus merupakan penangan yang berfokus pada penangan emosi dengan pengelolaan respon emosional untuk mengurangi perasaan tidak nyaman secara psikologi seperti mencurahkan masalah yang dialami kepada orang tua, guru atau teman yang dirasakan mampu menjadi tempat curhat. Sedangkan koping fokus problem dengan cara alternatif meminimalisir atau membuang situasi  yang membuat stress seperti mendekatkan diri pada Tuhan, berlibur sejenak, mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang ada disekolah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 49 = 59