Oleh : Anggun Pranessia Anggrasari, S. Kep., Ns., M. Kep

(Program pendidikan profesi Ners STIKes Surabaya)

 

Pernahkah kalian mendengar istilah Individu Berkebutuhan Khusus?

Apa itu individu dengan berkebutuhan khusus, seperti apa ciri-cirinya?

 

Pada umumnya masyarakat di Indonesia lebih sering mengenal kondisi tersebut dengan sebutan disabilitas atau cacat dibandingkan dengan istilah Individu Berkebutuhan Khusus. Individu Berkebutuhan Khusus tidak hanya dialami oleh orang dewasa saja, melainkan beberapa anak juga bisa masuk ke dalam kondisi tersebut. Anak berkebutuhan khusus selalu dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Kondisi tersebut bukanlah sebuah penyakit dan mereka tidak akan menularkan kekurangan yang dimilikinya.

Setiap tanggal 3 Desember selalu diperingati sebagai Hari Disabiltas Sedunia, tidak luput juga anak-anak yang mempunyai kebutuhan khusus. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dapat diartikan sebagai seorang anak yang memerlukan pendidikan yang disesuiakan dengan hambatan belajar dan kebutuhan masing-masing anak secara individual. Terdapat 2 cakupan konsep anak berkebutuhan khusus, yaitu anak berkebutuhan khusus yang bersifat sementara dan anak berkebutuhan khusus yang bersifat menetap.

ABK yang bersifat sementara adalah anak-anak yang mengalami hambatan belajar dan perkembangan disebabkan oleh faktor eksternal. Misalnya anak yang mengalami emosi karena trauma akibat mengalami kekerasan fisik sehingga anak tidak bisa belajar. Pengalaman traumatis seperti yang dapat menjadi sebuah hambatan bagi anak untuk menjalani kehidupannya. Apabila peristiwa tersebut berlanjut dan tidak dapat tertangani dengan baik, anak akan justru masuk kedalam kondisi ABK yang bersifat permanen.

Untuk kondisi ABK yang bersifat permanen merupakan suatu kondisi dimana anak-anak mengalami hambatan belajar dan perkembangan disebabkan oleh faktor internal dan akibat langsung dari kondisi kecacatan. Misalnya pada anak yang kehilangan fungsi pendengaran, penglihatan, gangguan perkembangan kecerdasan, gangguan perkembangan interaksi sosial, gangguan gerak, gangguan emosi, dan tingkah laku. Pada kondisi tersebut, anak-anak dihadapkan pada kondisi keterbatasan dalam kehidupannya secara menetap.

Dalam kehidupannya, ABK membutuhkan perhatian baik dari keluarga maupun masyarakat sekitarnya. Pendidikan yang kita berikan kepada ABK berupa pendampingan secara khusus dan berkelanjutan. Melalui pendidikan dapat mengetahui kemampuan yang dimiliki ABK, untuk seterusnya akan dikembangkan dan berguna bagi kehidupannya karena banyak ABK yang memiliki bakat yang tidak dimiliki oleh anak normal pada umumnya.

ABK bukan berarti menjadi hambatan dalam menjalani kehidupan setiap harinya. ABK tidak berarti mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka sama seperti anak pada umumnya, hanya saja mereka memiliki cara yang berbeda dalam melakukan aktivitas karena keterbatasan dan hambatan yang mereka miliki. Mereka adalah anak-anak luar biasa yang mempunyai kebutuhan khusus yang justru istimewa dengan kemampuan atau bakat lain yang dimilikinya. Mari kita mencoba memahami ABK sebagai bentuk dukungan bagi mereka untuk berkembang dan terlibat dalam kehidupan bermasyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

39 − = 38