Oleh: Denis farida,S.Kep.,Ns.,M.Tr.Kep

Dosen Keperawatan Profesi Ners

Stikes Surabaya

Angka kejadian stoke semakin tahun semakin meningkat. Stroke atau biasa disebut dengan CVA (Cerebrovaskular accidenct) merupakan masalah kesehatan yang utama bagi masyarakat modern saat ini. Dewasa ini, stroke semakin menjadi masalah serius yang dihadapi hampir diseluruh dunia. Hal tersebut dikarenakan serangan stroke dapat mengakibatkan kecacatan fisik, mental bahkan kematian. Pada insan pasca stroke salah satu masalah yang perlu mendapatkan perhatian adalah menurunnya kemampuan mobilitas untuk dapat melakukan aktivitas. Masalah-masalah yang ditimbulkan oleh stroke bagi kehidupan manusia pun sangat kompleks. Adanya gang-guan-gangguan fungsi vital otak seperti gang-guan koordinasi, gangguan keseimbangan, gangguan kontrol postur, gangguan sensasi, dan gangguan refleks gerak akan menurunkan kemampuan aktivitas fungsional individu sehari-hari termasuk diantaranya adalah fungsi berjalan individu (Susanti, 2008). Hal ini mempengaruhi kemampuannya untuk mela-kukan aktivitas hidup sehari-hari. Oleh karena itu setelah serangan stroke, penderita harus mempelajari kembali hubungan somatosensori baru atau lama untuk melakukan tugas-tugas fungsionalnya. Hal tersebut memerlukan perhatian khusus oleh perawat dan  fisioterapi dengan berbagai metode dan pendekatan untuk mengembalikan kemampuan gerak dan fungsi dengan pola yang normal. metode latihan yang dapat digunakan adalah Metode Bobath.

Metode Babath adalah suatu metode terapi latihan pada stroke yang berasumsi bahwa penderita stroke seolah-olah pasien stroke kembali pada usia bayi sehingga pertumbuhan dan perkembangannya sesuai dengan pertumbuhan bayi normal. Oleh karena itu stroke harus dilatih mulai dari posisi berbaring, miring, tengkurap, merangkak, duduk, berdiri, dan berjalan (Putu Artha, 2014).

Tujuan intervensi dengan metode Bobath adalah optomalisasi fungsi dengan peningkatan kontrol postural dan gerakan selektif melalui fasilitasi, sebagaimana yang dinyatakan oleh IBITA (2008). Tujuan yang akan dicapai dengan konsep Bobath antara lain:

  1. Melakukan identifikasi pada area-area spesifik otot-otot antigravitasi yang mengalami penurunan tonus.
  2. Meningkatkan kemampuan input proprioceptive
  3. Melakukan identifkasi tentang gangguan fungsi setiap individu dan mampu melakukan aktivitas fungsi yang efisien “Normal”
  4. Fasilitasi specific motor activity
  5. Minimalisasi gerakan kompensasi sebagai reaksi dari gangguan gerak
  6. Mengidentifikasi kapan dan bagaimana gerakan menjadi lebih efektif

Tujuan intervensi dengan metode Bobath adalah optomalisasi fungsi dengan peningkatan kontrol postural dan gerakan selektif melalui fasilitasi, sebagaimana yang dinyatakan oleh IBITA (2008). Tujuan yang akan dicapai dengan konsep Bobath antara lain:

  1. Melakukan identifikasi pada area-area spesifik otot-otot antigravitasi yang mengalami penurunan tonus.
  2. Meningkatkan kemampuan input proprioceptive
  3. Melakukan identifkasi tentang gangguan fungsi setiap individu dan mampu melakukan aktivitas fungsi yang efisien “Normal”
  4. Fasilitasi specific motor activity
  5. Minimalisasi gerakan kompensasi sebagai reaksi dari gangguan gerak
  6. Mengidentifikasi kapan dan bagaimana gerakan menjadi lebih efektif

 

 

Prosedur pelaksanaan terapi bobath

Pada prinsipnya bentuk latihan dengan pendekatan metode bobath bersifat individual, tergantung problem yang di temukan pada pemeriksaan. Langkah awal dalam terapi latihan bobath yaitu dengan aktifasi otot-otot internal trunk (otot abdominal, otot para spinal,otot pelvic floor). Otot-otot tersebut merupakan otot yang memberikan stabilitas yang utama pada postur. Dengan stabilitas postur yang adekuat, maka fungsi mobilitas dari ekstremitas menjadi lebih mudah. Beberapa bentuk latihan dalam pendekatan metode bobath yang umum diberikan pada pasien stroke, diantaranya :

  1. Latihan aktif pada abdominal, langkah sebagai berikut:
  • Posisi awal insan stroke tidur terlentang
  • Tekuk kedua lutut 900
  • Kedua tangan berada di samping badan dengan posisi pronasi
  • Berikan instruksi untuk mengangkat pelvic secara bersamaan dan seimbang kearah tegak lurus (Pelvic tilt).
  • Lakukan dengan 7 kali pengulangan.
  • Umumnya insan stroke mampu melakukan gerakan tersebut, jika terdapat kesulitan, maka dapat diberi bantuan minimal oleh fisioterapis.

 

  1. Latihan gerak fleksi pada tungkai bawah, langkah sebagai berikut:
  • Posisi awal insan stroke tidur terlentang
  • Berikan fiksasi pada bagian pelvic.
  • Letakkan tangan pada sisi lateral telapak kaki sebagai fasilitasi
  • Berikan instruksi melakukan gerakan menekuk pada lutut dengan tetap mempertahankan alignment dari tungkai.

  1. Latihan untuk otot internal obligue, langkah sebagai berikut:
  • Posisi insan stroke tidur terlentang
  • Salah satu tungkai ditekuk (fleksi 900).
  • Berikan fiksasi pada panggul (hip joint).
  • Berikan fasilitasi pada lutut tungkai yang ditekuk dengan memberikan stimulasi kearah lateral (abduksi hip).
  • Berikan instruksi untuk melakukan gerakan secara aktif dan perlahan.
  • Lakukan minimal sebanyak 7 kali pengulangan

 

  1. Latihan gerak aktif pada tungkai bawah
  • Posisi insan stroke tidur terlentang
  • Posisi awal fleksi lutut dan hip
  • Pegangan fisioterapis pinggung dan telapak kaki yang memberikan stimulasi kearah dorsal fleksi saat tungkai di gerakkan.
  • Berikan stabilisasi pada sisi lateral lutut untuk menjaga alignment
  • Berikan instruksi untuk melakukan gerakan ekstensi lutut (seperti menendang dengan tumit) dengan dorsofleksi pada ankle dan internal rotasi untuk menjaga alignment
  • Lakukan secara perlahan minimal 7 kali pengulangan.

 

  1. Latihan gerak postural set, langkah sebagai berikut:
  • Posisi awal insan stroke tidur terlentang
  • Berikan sanggahan berupa box sehingga hip dan knee membentuk sudut fleksi 900.
  • Lakukan koreksi alignment kepala terhadap sternum
  • Berikan fasilitasi agar kepala mengarah ke sternum (fleksi leher)
  • Berikan fasilitasi agar insan stroke mengangkat tubuh kearah fleksi.
  • Berikan fasilitasi pada area upper thorakal untuk melakukan gerakan fleksi
  • Berikan instruksi agar insan stroke meniup setiap gerakan dilakukan.

 

  1. Latihan aktif lateral abdominal, langkah sebagai berikut:
  • Posisi awal insan stroke tidur terlentang.
  • Kedua tungkai disanggah dengan paha fisioterapis
  • Arahkan kedua tungkai insan stroke ± 450 kontra lateral.
  • Berikan fasilitasi pada sisi lateral pelvic dan abdominal.
  • Berikan fasilitasi untuk elevasi pelvic
  • Lakukan secara perlahan dengan 7 kali pengulangan.

  1. Latihan aktif persiapan posisi tidur ke duduk, langkah sebagai berikut:
  • Posisi awal insan stroke tidur terlentang.
  • Kedua tungkai berada di tepi bed
  • Berikan fasilitasi pada siku untuk melakukan tumpuan.
  • Berikan fiksasi pada salah satu sisi pelvic (ipsilateral dengan tumpuan siku)
  • Berikan fasilitasi pada lengan sisi kontra lateral agar mengangkat tubuh diawali
  • dengan fleksi kepala sejajar dengan sternum (head control).
  • Lakukan secara perlahan agar terjadi tumpuan tubuh pada salah satu sisi dari
  • pinggul (os ischii/tulang duduk)

  1. Fasilitasi area lengan, langkh sebagai berikut:
  • Posisi pasien stroke duduk di tepi bed.
  • Pegangan fisioterapis pada lengan bawah.
  • Berikan fasilitasi gerak pada lengan insan stroke kearah fleksi bahu yang
  • diikuti oleh eksternal rotasi mulai pada 900 fleksi shoulder dengan
  • mengarahkan secara aktif siku bergerak kedalaman

  1. Latihan stabilisasi postur, langkah sebgai berikut:
  • Posisi insan stroke berdiri
  • Letakkan alat bantu dengan menggunakan kotak atau benda lainnya setinggi 30 cm yang dapat menopang salah satu kaki.
  • Tempatkan salah satu kaki diatas kotak, sehingga membentuk sudut 900
  • Posisi tangan fisioterapis pada sisi abdominal dan gluteal.
  • Lakukan fasilitasi pada pelvic kearah backward dan superior.
  • Lakukan secara bergantian kearah foreward.

  1. Fasilitasi pola berjalan, langkah sebagai berikut:
  • Posisi insan stroke berdiri
  • Berikan topangan pada postur dengan eksternal rotasi lengan.
  • Berikan fasilitasi kepada insan stroke untuk melakukan pemindahan berat badan ke salah satu sisi (salah satu tungkai).
  • Berikan instruksi agar insan stroke mempertahankan pelvic dengan gerakan backward.
  • Berikan fasilitasi pada tungkai bawah agar melakukan gerakan melangkah.
  • Pegangan pada sisi lateral telapak kaki, kemudian berikan fasilitasi agar punggung kaki melakukan gerakan dorsal fleksi.
  • Berikan instruksi kepada insan stroke agar menjaga kepala tetap tegap (tidak menunduk).
  • Berikan instruksi agar fase menapak diawali oleh tumit atau gerakan searah dengan tumit.

  1. Fasilitasi pola jalan, langkah sebagai berikut:
  • Posisi pasien stroke berdiri
  • Posisi fisioterapis di depan atau dibelakang insan stroke. Biasanya insan stroke merasa lebih aman bila posisi fisioterapis didepan.
  • Pegangan fisioterapis pada kedua sisi lateral pelvic.
  • Berikan fasilitasi kepada insan stroke untuk melakukan pemindahan berat badan ke salah satu sisi (salah satu tungkai).
  • Berikan rangsangan agar insan stroke mempertahankan pelvic dengan gerakan backward.
  • Berikan instruksi kepada insan stroke agar menjaga kepala tetap tegap (tidak menunduk).
  • Berikan instruksi agar fase menapak diawali oleh tumit atau gerakan searah dengan tumit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

65 − 56 =